Text
Stereotip penjurusan di SMA (studi kasus di SMA Negeri 35 Jakarta)
ABSTRAK
Rio Cahyo Saputro. Stereotip Penjurusan di SMA: Studi Kasus SMA Negeri 35 Jakarta. Skripsi. Jakarta: Program Studi Pendidikan Sosiologi Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Jakarta, 2015.
Penelitian ini membahas tentang stereotip terhadap penjurusan yang terjadi di jenjang SMA dan dampaknya bagi peserta didik selama menjalani proses pembelajaran. Hal ini dilatarbelakangi karena masih kuatnya kebiasaan yang cenderung mengistimewakan program studi bidang eksakta. Maka, permasalahan penelitian dibagi menjadi tiga pertanyaan utama, yakni bagaimana proses seleksi penjurusan dilakukan, bagaimana para pelaku pendidikan memaknai penjurusan, dan dampak stereotip bagi peserta didik dalam proses pendidikan.
Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan pengamatan terhadap subjek penelitian. Wawancara dilakukan terhadap dua puluh satu orang peserta didik, lima orang pendidik dan orangtua peserta didik, serta dua orang informan kunci.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses seleksi penjurusan terbagi menjadi dua, sesuai kurikulum yang berlaku. Seleksi penjurusan menempatkan disiplin ilmu eksak pada posisi yang ditinggikan. Seleksi yang dilakukan membuat jurusan IPA diistimewakan dan menjadikannya jurusan favorit. Sedangkan jurusan IPS diperuntukkan bagi mereka yang dianggap gagal masuk jurusan IPA. Begitu pula jurusan Bahasa, jurusan yang dianggap sebagai pilihan terakhir ini menjadi terpinggirkan. Namun, upaya konsisten yang dilakukan sekolah untuk mengurangi perspektif yang membagi jurusan menjadi kelompok yang dibedakan secara vertikal mampu mengubah perspektif para pelaku pendidikan terhadap penjurusan di sekolah.
Stereotip di kalangan peserta didik, pendidik, dan orangtua, membagi antara stereotip positif, stereotip negatif, dan cap yang ditempelkan oleh pihak out-group peserta didik. Stereotip positif menjadi kebanggaan bagi jurusan yang memiliki citra positif, sedangkan stereotip negatif menjadi hal yang harus diubah atau dihapuskan bagi jurusan yang memiliki citra negatif. Terdapat juga cap atau “gelar” yang menjadi identitas atau panggilan bagi jurusan yang memilikinya. Dampak yang diterima peserta didik akibat stereotip yang dilekatkan padanya, yakni adanya pembedaan perlakuan, kekerasan verbal, dan penghakiman. Kerangka berpikir yang menciptakan prasangka akibat stereotip membuat perasaan antipati antarkelompok menguat, sehingga stigma yang melekat di tiap jurusan terus direproduksi. Semangat untuk menghilangkan stigma direalisasikan secara individual maupun kolektif sebagai rekonstruksi citra.
Kata Kunci: Penjurusan dan Peminatan, Stereotip, Prasangka.
Bibliografi : lembar 105-106
| SS00006660 | SK 6660 | UPT Perpustakaan UNJ (CD.04.2015.002) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain