Text
Pembangunan sikap toleransi melalui pendidikan nonformal masyarakat di Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi
PEMBANGUNAN SIKAP TOLERANSI MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL MASYARAKAT DI KECAMATAN PONDOK MELATI KOTA BEKASI PENELITIAN STUDI KASUS (2015)
DEVELOPING TOLERANCE ATTITUDE THROUGH NON-FORMAL EDUCATION FOR COMMUNITY IN PONDOK MELATI DISTRICT BEKASI
DIAN YASMINA FAJRI ABSTRACT
This paper examines the development of tolerance attitude in the District of Pondok Melati, Bekasi. The target area of this research is the community known for their high level of tolerance background. They live in harmony in the midst of religious and ethnic diversity. This study is a qualitative research using a case study approach research method conducted between 20014-2015. The research reveals whether there has been a good tolerance or false tolerance. Researcher generally observes any events occured in the area, collecting data related to tolerance, looking for patterns, and making conclusions using the inductive analysis. After doing a grand tour of observation, the initial study was held looking for uniqueness in order to map and determine the focus and subfokus research. There were some facts found during the study. The findings include: tolerance is the philosophical view of life in the relationship of this community. This legacy was applied for generations. But there are things that are invisible under the tolerance that seems to run very well. Ignoring these matter could ruin the atmosphere that has been conducive. Researchers try to provide recommendations include the urgenh reinforcement to the adherents of each religion, by getting better understanding and strengthening the faith of the adherent of each religion. Improve both knowledge and practice of each religion, as well as the handling of religious conflict for non-formal religious education activists if its really happen in the region.
Keyword : attitude, tolerance, non-formal education
RINGKASAN
Pondok Melati merupakan “ Indonesia Mini,” karena berbagai macam agama dan suku hidup berdampingan secara harmonis. Toleransi di kalangan masyarakatnya menjadi percontohan daerah kerukunan antar umat bergama tingkat nasional. Berbagai keunikan di daerah ini antara lain beragamnya agama dalam suatu keluarga, banyaknya rumah ibadah yang berdekatan, keunikan budaya Betawi dalam ritual kristen Kampung Sawah yang khas, sejarah beragamnya percampun suku , budaya dan karakternya dsb. Mengapa sikap toleransi ini dianut masyarakat, bagaimana pewarisannya secara turun temurun, siapakah yang berperan melanggengkan sikap tersebut menjadi pertanyaan yang membawa peneliti mendalami masalah dan memahami makna yang sesungguhnya terjadi di lingkungan tsb. Di balik keharmonisan terekam sebuah gambaran umat beragama yang sebenarnya kurang berpegang teguh pada ajaran agama, sebuah sikap “abangan” dan keacuhan pada agama yang kemudian berbalik menjadi peduli setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI. Dengan peran serta dari tokoh pendidikan nonformal, kefahaman masyarakat terhadap ajaran agamanya makin membaik. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitataif dengan pendekatan riset studi kasus yang dilakukan antara tahun awal 20014 –pertengahan 2015. Studi kasus merupakan salah satu penelitian kualitatif yang bersifat spesifik, khusus dan berskala lokal. Penelitian ini mengungkap apakah benar telah terjadi toleransi yang baik atau toleransi yang semu .
Prosedur pengumpulan data dimulai dengan grand tour observation, studi awal untuk mencari keunikan daerah Pondok Melati, guna memetakan dan menentukan fokus dan subfokus penelitian. Peneliti membuat rancangan penelitian, mengumpulkan konsep yang mendukung sembari membuat protokol riset yang di perlukan. Pemilihan informan di ambil dari berbagai kelompok pendidikan informal seperti majelis taklim, kelopok pendidikan agama, tokoh pembina kelompok keagamaan, juga kelompok pengentasan ekonomi bagi perempuan Data terkumpul di reduksi dan di analisa serta di uji keabsahannya. Peneliti menemukan berbagai temuan selama penelitian antara lain di Kampung Sawah adanya filosofis di mana sawah di kelola secara bersama-sama mulai dari menandhur hingga memanen. Oleh karenanya kebersamaan menjadi worldview yang diwariskan turun temurun. Interaksi sosial antar umat berjalan baik , ini terjadi berkat kekerabatan dan rasa persaudaraan sebagai satu keturunan. Toleransi juga berkembang melalui pendidikan dan pengajaran serta interaksi dikehidupan sosial. Sikap keberagamaan yang abangan sebenarnya juga mendukung toleransi di Pondok Melati, orang cenderung acuh dan tidak peduli dengan urusan orang lain. Hal ini di tambah dengan maraknya urbanisasi di mana orang dari berbagai daerah masuk dan tinggal di lokasi pinggir Jakarta itu. Peran para tokoh pendidikan nonformal mempunyai andil besar dalam pembangunan siakp toleransi. Mereka menanamkannya melalui melalui pengajaran, nasehat, pengarahan dan meredam konflik yang terjadi sebelum melebar secara luas. Sayang pengetahuan agama mereka tidak terlalu memadai. Kesimpulan penelitian merangkum bahwa ada hal-hal yang tak terlihat dipermukaan yang bisa merusak toleransi dan merubah sikap masyarakatnya. Misal kecenderungan sifat abangan dari pemeluk agama, perasaan golongan mayaoritas dimanfaatkan oleh kaum minoritas, over toleransi yang melanggar batas agama, penyiaran agama yang menjadi ajang pencarian dana, para pendatang baru yang mempunyai budaya yang tak sama dengan pendududk asli. Dll Oleh karenanya kami mekomendasikan penguatan pemahaman kegamaan bagi masing-masing agama agar toleransinya bukan menjadi toleransi yang semu. Memberikan pelatihan dan peningkatan kepahaman pada masyarakat agar meningkat pemahaman agamanya. Meningkatkan ilmu dan keahlian para tokoh agama agar mampu memimpin umat dengan lebih baik. Bantuan dana operasional untuk sarana dan prasarana pendidikan nonformal keagamaan.
Bibliografi : lembar 121-124
| TM00001368 | TM 1368 | UPT Perpustakaan UNJ (CD.07.2015.001) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain