Text
Peningkatan keterampilan menulis narasi bahasa Indonesia melalui model sinektik : penelitian tindakan di MA Al-Khairiyah Pabuaran Banten
RINGKASAN
PENDAHULUAN
Selama ini pembelajaran menulis narasi masih dilakukan secara
tradisional dengan menekankan pada hasil tulisan siswa, bukan pada proses
yang seharusnya dilakukan. Akhirnya kegiatan menulis narasi dianggap
sebagai suatu yang memberatkan sehingga siswa tidak memiliki pengalaman
menulis narasi. Keengganan siswa untuk menulis narasi disebabkan
ketidaktahuan bagaimana harus menulis.
Di balik tuntutan di atas, ditemui beberapa kendala terkait dengan
proses pembelajaran menulis narasi bahasa Indonesia di MA Al-Khairiyah
Pabuaran Banten. Dari hasil observasi prapenelitian diperoleh beberapa
masalah. Pertama, guru sekaligus peneliti sulit menentukan model
pembelajaran yang tepat. Kedua, proses pembelajaran kurang mengarah
pada tujuan akhir, yaitu siswa dapat menghasilkan sebuah produk tulisan
(narasi). Ketiga, siswa belum mampu menulis narasi yang sesuai dengan
struktur narasi.
Kondisi pembelajaran yang dipaparkan di atas diperkuat oleh hasil
wawancara dengan guru bahasa Indonesia yang lain di MA Al-Khairiyah
Pabuaran Banten. Hasil wawancara memberikan informasi sebagai berikut.
Pertama, guru telah berupaya mengajarkan teori narasi bahasa Indonesia
yang di dalamnya terdapat struktur narasi, namun teori tersebut tidak
sepenuhnya diterapkan siswa dalam tulisan. Akibatnya, kualitas tulisan yang
dibuat kurang sesuai dengan bentuk narasi yang baik. Kedua, guru telah
memberikan tugas menulis narasi kepada siswa. Namun, gagasan yang
dituangkan dalam narasi sangat minim. Bahkan ada narasi yang dihasilkan
bukan dari buah pikiran sendiri melainkan berasal dari buku teks dan situs
internet. Ketiga, guru telah berusaha melatih dan membimbing siswa dalam
menulis narasi tetapi usaha tersebut belum dapat mencapai hasil yang
4
optimal. Banyak kesalahan dalam menulis narasi yang dibuat oleh siswa
terutama dalam perbuatan, penokohan, latar, sudut pandang, dan alur.
Peningkatan keterampilan menulis narasi dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dinilai penulis
tepat dalam upaya meningkatkan prestasi menulis siswa yaitu model sinektik.
Model ini merupakan alat untuk mengembangkan kreavitas siswa melalui
metafora dan analogi. Kemampuan kreativitas merupakan produk berpikir
dalam mengembangkan inovasi melalui penyadaran proses kreatif itu sendiri.
Model ini berupaya mendorong siswa untuk menyadari proses kreatif yang
dilakukannya dalam memecahkan permasalahan.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses
pembelajaran menulis narasi bahasa Indonesia siswa yang meliputi tujuan,
model, prosedur, materi, peran guru dan siswa, serta penilaian pembelajaran
menulis narasi bahasa Indonesia. Penelitian tindakan ini dilaksanakan di MA
Al-Khairiyah Pabuaran Banten. Model penelitian tindakan yang digunakan
adalah model Kemmis dan McTaggart. Penelitian ini terdiri dari dua siklus.
Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu: perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Data penelitian dibagi menjadi dua yaitu data kualitatif
dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari penggunaan lembar observasi,
wawancara, catatan lapangan, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari hasil
karangan narasi siswa dalam pembelajaran. Penilaian kemampuan menulis
narasi melalui model sinektik meliputi lima aspek, yaitu 1) isi berupa tema dan
alur, 2) organisasi penulisan berupa perbuatan, penokohan, latar, dan sudut
pandang, 3) kosa kata, 4) penggunaan bahasa berupa tata bahasa, metafora,
dan analogi, 5) mekanik berupa tanda baca, penulisan huruf, dan pemisahan
kata.
5
HASIL PENELITIAN
Sebelum siklus I dilakukan, guru melaksanakan tes awal. Tujuan
diadakan tes awal dalam penelitian ini adalah untuk menjajaki sejauh mana
keterampilan siswa dalam menulis narasi bahasa Indonesia. Setelah
dilakukan tes awal, nilai rata-rata yang diperoleh siswa masih rendah yaitu
57,3. Nilai tes awal ini masih jauh dari standar nilai yang ditetapkan yaitu 70.
Berdasarkan hasil nilai dari tes awal yang diperoleh dari siswa dapat diambil
kesimpulan bahwa keterampilan menulis narasi siswa masih rendah.
Tahap Perencanaan tindakan siklus I, sebelum mempersiapkan
rencana pelaksanaan pembelajaran, guru harus mengetahui kondisi kelas
dan fasilitas yang tersedia di sekolah. Kemudian guru mempersiapkan
rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai. Selain itu, guru mempersiapkan sarana dan fasilitas
pendukung. Guru juga membuat lembar observasi untuk melihat kondisi
belajar mengajar di kelas ketika model sinektik diterapkan dalam menulis
narasi.
Tahap tindakan, guru memberikan stimulus kepada siswa mengenai
menulis narasi berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah
disusun. Guru dan siswa juga melakukan tanya jawab mengenai unsur-unsur
narasi, struktur narasi, metafora, dan analogi. Setelah itu, guru meminta
siswa mendeskripsikan situasi atau topik yang dilihat saat itu. Sebagian besar
hanya sekadar menginformasikan secara global saja. Siswa sering merasa
sulit untuk mengurai peristiwa atau kondisi yang mereka telah kuasai.
Kemudian siswa membuat analogi langsung, memilih salah satu, dan
menjelaskan lebih lanjut.
Tahap observasi, mengembangkan konflik. Siswa mengembangkan
konflik berdasarkan analogi langsung melalui pengalaman-pengalaman yang
mereka ketahui kemudian menyeleksi analogi langsung berdasarkan konflik
yang telah dikembangkan. Dalam tahap ini, siswa belum terbiasa
6
menggunakan metafora dan analogi dalam menulis narasi. Setelah itu, guru
meminta siswa untuk memilih suatu situasi/topik yang bertentangan dengan
situasi-situasi yang telah dideskripsikan. Siswa mengembangkan dan
menyeleksi analogi-analogi langsung lainnya berdasarkan konflik yang telah
dideskripsikan. Selanjutnya, guru mencocokan informasi balikan dalam
menulis narasi. Guru meminta siswa kembali pada tugas atau masalah awal
dan menggunakan analogi terakhir.
Tahap refleksi, guru dan siswa mendiskusikan hasil tulisan narasi.
Siswa diminta untuk memberikan pendapat terhadap hasil tulisan narasi
temannya. Pendapat yang disampaikan tidak hanya terkait struktur narasi,
analogi dan metafora saja, tetapi juga teknis penulisan seperti tata bahasa,
kosakata, tanda baca, penulisan huruf maupun pemisahan kata. Siswa
memperbaiki tulisan narasi berdasarkan pendapat yang disampaikan
temannya yang didampingi oleh guru. Guru dan siswa menyimpulkan
pembelajaran menulis narasi yang telah dilakukan.
Hasil menulis narasi siswa pada siklus I diperoleh nilai rata-rata 68,35.
Nilai terendah siswa sebesar 60, sedangkan nilai tertinggi siswa sebesar 81.
Walaupun nilai yang diperoleh siswa pada siklus I ini mengalami peningkatan
dibandingkan dengan nilai yang diperoleh pada tes awal namun nilai pada
siklus I ini belum mencukupi standar nilai yang telah ditetapkan KKM yaitu
sebesar 70.
Siklus II direncanakan setelah mempelajari seluruh temuan pada siklus
I. Masih adanya keterbatasan dan kekurangan yang ditemui pada proses dan
hasil tindakan pada siklus I. Belum terlihat peningkatan yang berarti terhadap
kemampuan kreatif siswa untuk mengembangkan idenya ke dalam bentuk
tulisan, mendorong peneliti untuk menyempurnakan tindakan dengan
perubahan seperlunya terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Tahap perencanaan siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I. Guru
memperbaiki RPP sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
7
Beberapa tindakan yang dicatatkan pada siklus I perlu mendapat perhatian
khusus. Guru mempersiapkan sarana dan fasilitas pendukung, serta
membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas.
Guru dan kolaborator merencanakan jadwal pertemuan dan jadwal
pelaksanaan tindakan. Sesuai dengan catatan hasil evaluasi dan refleksi
pada siklus I, perencanaan pembelajaran siklus II ini direncanakan dengan
memantapkan perlakuan terhadap hal yang perlu untuk diperhatikan.
Pada tindakan siklus II ini mengedepankan catatan-catatan dari
refleksi siklus I dan tema pembelajaran. Peneliti juga RPP yang telah
diperbaiki. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai. Pembelajaran diawali dengan berbagi cerita tentang
peristiwa atau kejadian berkesan yang pernah dialami siswa. Kemudian
siswa mendeskripsikan situasi atau topik yang mereka pilih. Selanjutnya, guru
mengusulkan analogi langsung dan siswa mendeskripsikannya. Setelah itu,
guru mengusulkan siswa untuk membuat alur cerita dengan mengajukan
beberapa analogi langsung, memilih satu, dan menjelaskan lebih lanjut.
Pada tahap observasi, guru meminta siswa mengembangkan konflik
berdasarkan analogi langsung. Dalam pertemuan ini membicarakan tema
yang telah dibahas sebelumnya. Siswa mengembangkan konflik berdasarkan
analogi langsung melalui pengalaman-pengalaman yang mereka alami.
Siswa diberi keleluasaan untuk menuliskan cerita tentang kehidupan seharihari
mereka berdasarkan analogi langsung yang dikembangkan dalam
karangan narasi. Setelah itu, siswa memilih suatu situasi atau topik yang
bertentangan dengan situasi-situasi yang telah dideskripsikan. Selain itu,
guru meminta siswa mengembangkan konflik berdasarkan analogi langsung.
Tahap refleksi, siswa diminta untuk membacakan hasil tulisan narasi
mereka. Guru semaksimal mungkin menekan pemberian komentar negatif
terhadap hasil karangan narasi siswa, termasuk ejaan yang disempurnakan
dalam tulisan yang kurang sesuai. Siswa diminta untuk memberikan
8
pendapat terhadap hasil tulisan narasi temannya. Guru dan siswa
menyimpulkan pembelajaran menulis narasi yang telah dilakukan.
Pada siklus II hasil tulisan narasi siswa terlihat ada perbedaan bila
dibandingkan dengan tulisan narasi yang ditulis siswa pada awal tes maupun
pada siklus I. Hasil tulisan narasi siswa meningkat dari isi dan makna yang
terkandung dalam tulisan tersebut. Demikian juga isi kandungan ceritanya,
kalimat demi kalimat yang dipergunakan siswa terasa lebih berbobot
ketimbang tulisan mereka sebelumnya. Metafora dan analogi yang mereka
suguhkan mampu mendongkrak nilai kreatif karangan siswa.
Berdasarkan hal tersebut didapat bahwa dibandingkan dengan nilai
kreativitas tulisan awal (tes awal) sebelum perlakuan penelitian maka nilai
siswa menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan untuk dikatakan
meningkat. Rata-rata nilai tes awal yang kurang menjadi cukup pada siklus I
dan menjadi lebih baik pada siklus II. Tes awal keterampilan menulis narasi
memperoleh nilai rata-rata 57,3. Pada siklus I nilai rata-rata 68,35. Pada
siklus II nilai rata-rata kelas adalah 80,15.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat ditarik
simpulan bahwa proses peningkatan keterampilan menulis narasi melalui
model sinektik dapat dilihat dari ide yang dikemukakan siswa tampak sedikit
berbeda dari hasil tulisan narasi pada tes awal. Ide baru dengan bantuan
metafora dan analogi telah memberi rasa percaya diri yang cukup pada siswa
untuk bercerita lebih leluasa. Penggambaran metafora dan analogi dapat
ditingkatkan melalui model sinektik dalam menulis narasi. Berdasarkan tes
awal perolehan nilai keterampilan menulis narasi terendah 50 dan nilai
tertinggi 75 serta nilai rata-rata kelas 57,3. Pada siklus I nilai terendah 60 dan
nilai tertinggi 81 serta nilai rata-rata kelas 68,35. Pada siklus II nilai terendah
yang diperoleh adalah 72 dan nilai tertinggi yang didapat adalah 85 serta nilai
9
rata-rata kelas adalah 80,15. Nilai rata-rata keterampilan menulis narasi
siswa melalui model sinektik yaitu pada tes awal 57,3, siklus I 68,35,
sedangkan pada siklus II 80,15.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dilakukan upaya-upaya
guru bahasa Indonesia dalam rangka meningkatkan menulis narasi siswa,
antara lain: pengajar hendaknya memilih dan menggunakan model sinektik
sebagai model pembelajaran dalam proses pembelajaran, guru dan siswa
hendaknya terus meningkatkan wawasan dan pemahaman mereka mengenai
keterampilan menulis narasi melalui model sinektik dengan membaca bukubuku
rujukan dalam menerapkan kaidah-kaidah kebahasaan, dalam proses
pembelajaran hendaknya memperhatikan gaya belajar siswa agar
memudahkan siswa untuk memahami pelajaran sesuai dengan cara
belajarnya terutama pada model sinektik yang diajarkan.
Bibliografi : lembar 170-173
Tidak tersedia versi lain