Text
Pengaruh subjective well-being, knowledge sharing, dan kompetensi penelitian terhadap produktivitas penelitian di LITBANG Agama Jakarta, Kementerian Agama RI
RINGKASAN
PENDAHULUAN
Dalam era masyarakat yang berbasis pengetahuan (knowledge based society), ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) diakui sebagai pencapaian tertinggi dalam kebudayaan manusia. Perkembangan IPTEK didukung oleh kegiatan penelitian. Penelitian menurut Kerlinger (dalam Sukardi) adalah proses penemuan yang mempunyai karakteristik sistematis, terkontrol, empiris, dan mendasarkan pada teori dan hipotesis atau jawaban sementara.
Kegiatan penelitian tidak akan terlepas dari peneliti. Sebutan peneliti sebenarnya diperuntukkan kepada setiap orang yang melakukan kegiatan penelitian. Namun secara khusus, ada jabatan fungsional peneliti yang diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwenang untuk melakukan penelitian dan/atau pengembangan IPTEK pada suatu organisasi penelitian dan pengembangan (litbang) instansi pemerintah.
Produktivitas peneliti Indonesia di tingkat internasional dinilai masih rendah. Hal ini terlihat dari sedikitnya publikasi ilmiah oleh peneliti Indonesia di tingkat internasional dibandingkan dengan negara lainnya. Peringkat jumlah publikasi ilmiah dari peneliti Indonesia pada jurnal internasional dapat dilihat pada data Scopus yang dirilis tahun 2015. Indonesia berada di peringkat ke-57 dari 239 dengan jumlah publikasi paper sebanyak 32.355. Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya yakni Singapura peringkat ke-32 dengan jumlah publikasi 192.942, Malaysia peringkat ke-36 dengan 153.378 publikasi, dan Thailand peringkat ke-43 dengan 109.832 publikasi. Sedangkan tiga negara yang paling produktif menerbitkan karya-karya ilmiah, yaitu peringat ke-1 diduduki oleh Amerika Serikat dengan jumlah publikasi karya ilmiah 8.626.193, peringkat ke-2
iv
adalah China dengan jumlah publikasi 3.617.355, dan peringkat ke-3 yakni Inggris dengan jumlah publikasi 2.397.817.1
Kajian tentang produktivitas penelitian telah banyak dilakukan di beberapa negara. Penelitian yang dilakukan oleh Lertputtarak untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas penelitian di Noble Universitas Thailand menyimpulkan bahwa terdapat 5 (lima) faktor yang mempengaruhi produktivitas penelitian yakni : faktor lingkungan, kelembagaan, pengembangan karir (meliputi : minat dan kemampuan individu, sikap terhadap penelitian, pengalaman penelitian, skill dan pelatihan), kontingensi sosial (meliputi: kesehatan, anak, orang tua, keuangan, dan kehamilan (meliputi: usia, jenis kelamin, status perkawinan). Penelitian oleh Wichian, Wongwanich dan Bowarnkitiwong menemukan bahwa faktor-faktor seperti: karakteristik peneliti, researchership, kompetensi penelitian, dan dukungan lembaga berpengaruh signifikan terhadap produktivitas penelitian. Kajian produktivitas juga pernah dilakukan di Kenya oleh Kendagor et al. yang menyimpulkan bahwa hubungan antara aksesibilitas untuk dana penelitian, jumlah waktu yang dialokasikan untuk penelitian, kualifikasi peneliti dan lingkungan penelitian dengan hasil penelitian di di Universitas Moi, Kenya.
Berdasarkan kajian literatur dari jurnal-jurnal ilmiah, menemukan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi produktivitas penelitian antara lain : kesejahteraan subjektif peneliti, kegiatan berbagi pengetahuan (knowledge sharing), dan kompetensi penelitian. Kesejahteraan subjektif dikenal dengan istilah subjective well-being adalah penilaian individu mengenai kehidupannya yang dinilai secara kognitif dan afektif (emosional). Seseorang dikatakan memiliki subjective well-being yang tinggi jika dia merasa puas dengan kondisi hidupnya dan seringkali merasakan
1 Scopus diakses dari www.scimagojr.com diakses tanggal 26 Agustus 2015
v
kebahagiaan (happiness). Studi yang dilakukan oleh Oswald, Proto, dan Sgroi dengan eksperimen menemukan bahwa kelompok yang dberikan perlakuan bahagia seperti menonton video klip komedi dan diberikan makanan kesukaan menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Faktor yang kedua adalah kompetensi peneliti yang didefinisikan sebagai kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang peneliti berupa gabungan antara pengetahuan (knowledge), kecakapan atau kemahiran (skill) dan sikap perilaku (attitude) yang diperlukan dalam pelaksanaan tugasnya sebagai peneliti. Menurut Spencer bahwa kompetensi dapat memprediksi tingkah laku dan performansi pada tugas pekerjaan atau job task. Kompetensi dalam penelitian ini adalah kompetensi penelitian yang didefinisikan sebagai kemampuan peneliti terhadap teknik-teknik penelitian.
Faktor yang ketiga adalah knowledge sharing atau berbagi pengetahuan. Berdasarkan definisi kompetensi, maka pengetahuan merupakan salah satu unsur kompetensi. Aktivitas berbagi pengetahuan (knowledge sharing) sebagai basis untuk melahirkan inovasi yang dapat meningkatkan kompetensi karyawan. Karena saat ini peningkatan kompetensi tidak lagi mengandalkan sumber daya alam, tetapi berpindah kepada pemanfaatan sumber daya manusia secara optimal. Pengetahuan menjadi sumber daya yang sangat penting bagi peningkatan produktivitas organisasi atau perusahaan. Karena itu dalam meningkatkan produktivitas peneliti, diperlukan aktivitas knowledge sharing melalui potensi kreativitas dan inovasi peneliti.
Ukuran produktivitas penelitian adalah jumlah hasil penelitian yang dihasilkan oleh peneliti atau lembaga penelitian selama satuan waktu tertentu. Definisi dan pengukuran produktivitas penelitian juga banyak dikutip dalam Wichian et. al. antara lain oleh William, Bloedel, Kotrlik et. al., Jitpitak, Pipatrojkamon, Pabhapote dan Changsrisang, Sax et al. Williams
vi
mendefinisikan bahwa produktivitas penelitian adalah seberapa banyak peneliti dalam menghasilkan produk penelitian. Menurut Sax et al. menghitung produktivitas penelitian sebagai jumlah rata-rata laporan penelitian yang dipublikasikan dalam dua tahun terakhir.2
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk membuktikan secara empiris apakah faktor-faktor subjective well-being, kompetensi penelitian, dan knowledge sharing mempengaruhi produktivitas penelitian pada lembaga litbang pemerintah. Penelitian ini dilakukan di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI sebagai salah satu lembaga litbang yang berfungsi untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan bidang pendidikan agama, kehidupan keagamaan, dan lektur serta khazanah keagamaan.
.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan kausal. Sampel penelitian adalah peneliti yang berjumlah 100 orang. Teknik pengambilan sampel dengan cara proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen yang terdiri instrumen untuk produktivitas penelitian, subjective well-being, knowledge sharing, dan kompetensi penelitian. Produktivitas penelitian diukur melalui jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan peneliti selama periode tahun 2014 – 2015. Instrumen yang digunakan untuk mengukur subjective well-being terdiri dari 2 skala yaitu skala kognitif dan afektif. Skala kognitif diadopsi dari skala Satisfaction with Life Scale (SWLS) yang dikembangkan oleh Diener et al. (dalam Pavot & Diener)3 untuk mengukur kepuasan hidup secara keseluruhan dan kepuasan
2 Sageemas Na Wichian, Suwimon Wongwanich dan Suchada Bowarnkitiwong, “Factors Affecting Research Productivity of FacultyMembers in Government Universities: Lisrel and Neural Network Analyses”, Kasetsart J. 30 : 67 – 78, 2009, hh. 67
3 W. G. Pavot dan Ed Diener, “Review of the Satisfaction with Life Scale” (Psychological Assessment, 1993, hh.164-172
vii
pada domain tertentu ditentukan 11 domain kepuasan hidup. Adapun skala afektif diadopsi dari skala Positive Affect Negative Affect Schedule (PANAS) yang dikembangkan oleh Watson et al.4 Instrumen untuk knowledge sharing terdiri dari 40 butir dan instrumen kompetensi penelitian terdiri dari 64 butir.
Sebelum digunakan, instrumen dilakukan validasi oleh 3 orang pakar (expert judgement) dan 20 orang panelis. Berdasarkan validasi expert judgement dan panelis, menunjukkan bahwa instrumen valid dan layak dilanjutkan pada uji coba secara empiris untuk validitas dan reliabilitas instrumen. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa untuk instrumen subjective well-being pada alat ukur afektif yang terdiri dari 20 butir, ada 4 butir yang tidak valid sehingga hanya 16 butir yang layak digunakan lebih lanjut. Instrumen knowledge sharing yang terdiri dari 40 item, terdapat 9 butir yang tidak valid. Sedangkan untuk instrumen kompetensi penelitian menunjukkan 61 butir yang valid digunakan untuk pengumpulan data lebih lanjut.
Selanjutnya butir-butir yang valid diuji reliabilitasnya dengan koefisien Alpha Cronbach. Instrumen subjective well-being valid dengan koefisien Alpha Cronbach untuk komponen kognitif adalah 0,795 dan 0,906 dan komponen afektif dengan 16 butir yang valid memiliki koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,906. Instrumen knowledge sharing dengan 31 butir yang valid memiliki koefisien Alpha Cronbach 0,930, dan instrumen kompetensi penelitian dengan 62 butir yang valid mempunyai koefisien Alpha Cronbach 0,970.
Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (path analysis) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel eksogen terhadap variabel endogen. Sebelum
4 David Watson dan Lee Anna Clark, “Development and Validation of Brief Measures of Positive and Negative Affect: The PANAS Scales” (Journal of Personality and Social Psychol Measure of Positivelogy, 1988, Vol. 54, No. 6), hh.1063 – 1070
viii
dilakukan analisis jalur, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi untuk analisis jalur yang meliputi : uji normalitas galat taksiran, uji multikolinieritas, dan uji linieritas hubungan antar variabel.
Hasil Penelitian
Hasil pengujian persyaratan atau asumsi analisis jalur menunjukkan bahwa semua asumsi yakni normalitas galat taksiran, tidak adanya gejala multikolinieritas, dan adanya hubungan linier antar variabel bebas telah terpenuhi sehingga data penelitian dapat dilanjutkan dengan analisis jalur untuk pengujian hipotesis.
Subjective well-being peneliti berpengaruh positif langsung terhadap produktivitas penelitian dengan nilai koefisien jalur ρy1 sebesar 0,26 dengan thitung sebesar 2,46 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,96. Karena nilai thitung (2,46) lebih besar dari ttabel (1,96), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan dari subjective well-being (X1) terhadap produktivitas penelitian (Y).
Hasil pengujian hipotesis knowledge sharing terhadap produktivitas penelitian memberikan nilai koefisien jalur ρy2 sebesar -0,36 dengan thitung sebesar -3,24 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,96. Karena nilai │thitung│(3,24) lebih besar dari ttabel (1,96), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh langsung negatif yang signifikan dari knowledge sharing (X2) terhadap produktivitas penelitian (Y). Pada diagram jalur konstelasi penelitian, terdapat jalur tidak langsung dari knowledge sharing terhadap produktivitas penelitian melalui variable intervening kompetensi penelitian dengan koefisien jalur (ρ32 = 0,40 dan ρy3 = 0,37) yang artinya bahwa knowledge sharing berpengaruh positif tidak langsung terhadap produktivitas penelitian.
Hasil pengujian menunjukkan nilai koefisien jalur ρy3 sebesar 0,37 dengan thitung sebesar 3,42 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar
ix
1,96. Karena nilai thitung (3,42) lebih besar dari ttabel (1,96), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima H1 yang artinya bahwa terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan dari kompetensi penelitian (X3) terhadap produktivitas penelitian (Y).
Hasil pengujian menunjukkan nilai koefisien jalur ρ31 sebesar 0,23 dengan thitung sebesar 2,39 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,96. Karena nilai thitung (2,39) lebih besar dari ttabel (1,96), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima H1 yang artinya bahwa terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan dari subjective well-being (X1) terhadap kompetensi penelitian (X3).
Hasil pengujian menunjukkan nilai koefisien jalur ρ32 sebesar 0,4 dengan thitung sebesar 4,15 dan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% sebesar 1,96. Karena nilai thitung (4,15) lebih besar dari ttabel (1,96), maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan menerima H1 yang artinya bahwa terdapat pengaruh langsung positif yang signifikan dari knowledge sharing (X2) terhadap kompetensi penelitian (X3).
Pengujian kesesuaian model (goodness of fit test) memberikan nilai df = 0 , P-value = 1,00, dan RMSEA = 0,00. Karena df = 0; P-value=1,00; dan RMSEA=0, maka dengan beberapa nilai kesesuaian model yang diperoleh tersebut, dapat disimpulkan bahwa model yang diusulkan fit atau sesuai dengan data.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan penelitian bahwa subjective well-being peneliti berpengaruh positif langsung terhadap produktivitas penelitian. Oleh karena itu, semakin tinggi subjective well-being peneliti maka akan semakin tinggi pula produktivitas penelitian yang dihasilkan. Knowledge sharing dapat menurunkan produktivitas penelitian secara langsung jika tidak didukung
x
oleh kompetensi sumber daya manusia, dukungan organisasi, dan fasilitas teknologi informasi. Namun knowledge sharing dapat meningkatkan produktivitas penelitian melalui kompetensi penelitian, karena dengan knowledge sharing akan merangsang peneliti untuk berpikir kritis dan kreatif sehingga mampu menghasilkan inovasi melalui kegiatan penelitian dan pengembangan.
Kompetensi penelitian berpengaruh positif langsung terhadap produktivitas penelitian. Oleh karena itu, semakin tinggi kompetensi penelitian yang dimiliki oleh peneliti, maka akan semakin produktif peneliti dalam menghasilkan karya tulis ilmiah. Subjective well-being berpengaruh positif langsung terhadap kompetensi penelitian. Jika peneliti memiliki subjective well-being tinggi berarti bahwa peneliti tersebut merasa puas terhadap kehidupannya dan lebih sering merasakan emosi positif dibandingkan emosi negatif, maka akan memperlihatkan kompetensi penelitian yang tinggi pula. Knowledge sharing memberikan pengaruh positif secara langsung terhadap kompetensi penelitian. Knowledge sharing merupakan proses interaksi yang melibatkan pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan karyawan di dalam departemen atau organisasi. Dengan kegiatan knowledge sharing antar peneliti maka akan terjadi peningkatan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan sehingga mampu meningkatkan kompetensi penelitian bagi peneliti.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya peningkatan subjective well-being peneliti dengan upaya meningkatkan kesejahteraan secara materi serta memberikan kepuasan secara psikologis peneliti; menciptakan knowledge sharing culture dalam organisasi dan mendukungnya dengan teknologi informasi komunikasi seperti sosial network untuk knowlegde management. Selanjutnya perlunya peningkatan kompetensi penelitian dengan memberikan pelatihan tentang teknik-teknik penelitian melalui pelatihan-pelatihan, workshop ataupun seminar.
xi
Selanjutnya diperlukan kajian terkait produktivitas penelitian pada semua publikasi yang diterbitkan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, sehingga dapat diperoleh pola dan angka produktivitas publikasi yang ideal.
Bibliografi : lembar 182-189
Tidak tersedia versi lain