Text
Upaya meningkatkan kemampuan metakognisi siswa kelas VIII-A SMP Tashfia dalam memecahkan masalah melalui metode improve dengan pendekatan kontekstual pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar
ABSTRAK
AZKA AZIZAH. Upaya Meningkatkan Kemampuan Metakognisi Siswa Kelas VII-A SMP Tashfia Dalam Memecahkan Masalah Melalui Metode IMPROVE dengan Pendekatan Kontekstual Pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar. Skripsi. Jakarta : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Negeri Jakarta, 2016.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan metakognisi siswa kelas VIII-A SMP Tashfia Bekasi dalam memecahkan masalah menggunakan metode pembelajaran IMPROVE dengan pendekatan kontekstual. Kemampuan metakognisi dalam memecahkan masalah meliputi 2 aspek, yaitu pengetahuan metakognisi dan pengalaman atau keterampilan metakognisi. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif dan partisipatif. Tindakan dilaksanakan dalam 3 siklus dan tiap siklusnya terdiri dari 3 pertemuan. Pada setiap siklus, siswa diberikan tes akhir siklus dan angket metakognisi. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah lembar observasi, tes akhir siklus, angket metakognisi dan pedoman wawancara. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, tes, wawancara, pengisian angket, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan diskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan metode IMPROVE dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan metakognisi siswa kelas VIII-A SMP Tashfia dalam memecahkan masalah. Hal tersebut ditunjukkan melalui observasi serta wawancara bahwa metakognisi siswa meningkat secara bertahap disetiap siklusnya menjadi kriteria metakognisi minimal “sedang” dan melalui angket bahwa adanya peningkatan persentase metakognisi dengan target ketercapaian 75% siswa kelas VIII-A telah mencapai kriteria “sedang”, pada prasiklus sebesar 53,11% siswa yang memiliki kemampuan metakognisi dengan kategori minimal “sedang”. Pada siklus I, sebesar 71% siswa yang memiliki kemampuan metakognisi dengan kategori minimal “sedang”. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar 17,89%. Pada siklus II, sebesar 65,80% siswa yang memiliki kemampuan metakognisi dengan kategori minimal “sedang”. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan sebesar 5,2%. Pada siklus III, sebesar 76,31% siswa memiliki kemampuan metakognisi dengan kategori minimal “sedang”. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar10,51%.
Kata Kunci : Metakognisi, Pemecahan Masalah, Metode IMPROVE, Pendekatan Kontekstual
Bibliografi : lembar 167-169
Tidak tersedia versi lain