Text
Hubungan antara persistensi dan integritas dengan kinerja (organizational citizenship behavior) : studi korelasional guru swasta di sekolah kelompok bermain kanak-kanak Islam Al-Azhar se-Jabotabek tahun ajaran 2016/2017
RINGKASAN
Kompetensi yang harus dimiliki guru adalah kompetensi kepribadian, sosial, pedagogik dan profesional. Dengan empat kompetensi tersebut guru dianggap sebagai sosok pribadi yang diteladani karena mampu menunjukkan keutamaan-keutamaan (virtues) dalam praktek dan tingkah laku hidupnya. Guru hormat pada kejujuran, setia dalam ketekunan (persistensi), luwes dalam bergaul dengan berbagai kalangan, memegang teguh kedisiplinan, dan mencintai anak didiknya. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 ini juga disampaikan bahwa perlu adanya jaminan mutu pendidikan seperti yang tertuang dalam Penjaminan Mutu No. 2 dan No. 3 dimana disampaikan bahwa Penjaminan mutu pendidikan bertujuan untuk memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan dilakukan secara bertahap, sistematis dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki target dan kerangka waktu yang jelas. Meskipun semua aturan-aturan tersebut telah ditetapkan dan diberlakukan secara menyeluruh akan tetapi pada kenyataannya standar mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Demi sebuah nama baik dan tanggung jawab terhadap orang tua siswa, maka pihak sekolah mengabaikan proses dan lebih mengutamakan hasil walaupun dilakukan dengan kecurangan. Selain itu masih banyak kasus tentang rendahnya mutu pendidikan, khususnya disekolah-sekolah Islam. Kondisi ini diakibatkan oleh kurang berjalan baiknya sistem pendidikan Islam yang ada di Indonesia serta masih rendahnya kinerja. Kinerja (organizational citizenship behavior) yang merupakan bagian dari perilaku extra-role juga perlu mendapatkan perhatian khusus. Hal ini disebabkan karena masih kurangnya motivasi guru dalam melakukan perilaku extra-role di suatu
sekolah. Hal ini sejalan apa yang diyatakan oleh Peterson dan Seligman, ”the control of helath-detrimental actios also requires effort and persistence, and therefore is also guided by a volitional process that includes action plans and action control. If one intends to quit smoking or drinking alcohol, one has to plan how to do it. For example, it is important to avoid high-risk situations where the pressures to relapse are overwhelming”. Menurut Barry L. Reece, ”integrity is the basic ingredient of character that is exhibites when you achieve congruence between what you know, what you say and what you do. When you behavior is in tune with your professed standars and values when you practice what you believe in you have integrity. When you say one thing but do something else, you lack integrity”. Hal ini diperkuat lagi oleh Colquitt, “job performance is formally defined as the value of the set of employee behaviors that contribute, either positively or negatively, to organizational goal accomplishment. Para guru lebih banyak melakukan perilaku extra-role dalam keadaan terpaksa dan bukan karena keinginan dan kesukarelaan untuk memajukan sekolah. Berdasarkan kondisi tersebut maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan tema hubungan antara persistensi dan integritas dengan kinerja (organizational citizenship behavior) guru swasta di sekolah kelompok bemain Taman Kanak – Kanak Islam Al Azhar Sejabodetabek”. Penelitian ini sangat penting dan segera untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan terutama disekolah Islam. Melalui penelitian ini akan digali informasi untuk meningkatkan kinerja (organizational citizenship behavior) melalui penanganan terlebih dahulu persistensi. Penundaan penanganan masalah ini akan mengakibatkan masalah yang lebih besar bahkan akan menjadi biasa bagi sekolah Islam. Metode penelitian yang dipergunakan adalah metode survey, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk mengungkap hubungan antara variabel persistensi dan integritas dengan kinerja (organizational citizenship behavior). Populasi dalam penelitian ini yakni seluruh gur
swasta di sekolah kelompok bemain Taman Kanak – Kanak Islam Al Azhar Sejabodetabek. Pengambilan sampel penelitian dilakukan secara acak sederhana (random sampling), dengan jumlah sampel 94 orang. Hasil penelitian ini dari data kuantitatif, dengan memberikan kuesioner nontes kepada responden sebagai rujukan untuk mengetahui hubungan antara variabel persistensi dan integritas dengan kinerja (organizational citizenship behavior). Hasil analisis korelasional menunjukkan bahwa antara variabel baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, persistensi dan integritas memiliki hubungan positif dengan kinerja (organizational citizenship behavior). Hal ini ditunjukkan oleh nilai Fhitung sebesar 43,102. Nilai ini jauh lebih besar dari pada nilai Ftabel pada taraf signifikan α = 0,05 diperoleh Ftabel sebesar 3,10; atau Fhitung = 43,102 > Ftabel = 3,10. Pola hubungan antara ketiga variabel yang dinyatakan oleh persamaan regresi ganda Ŷ = 47,806 + 0,281X1 + 0,277X2. Persamaan ini memberikan informasi bahwa setiap perubahan satu unit skor persistensi dan integritas akan mengakibatkan terjadinya kinerja (organizational citizenship behavior) sebesar 0,281 atau 0,277. Hasil analisis korelasi ganda antara persistensi dan integritas dengan kinerja (organizational citizenship behavior) diperoleh nilai koefisien korelasi ganda Ry1.2 sebesar 0,697. Kontribusi murni variabel bebas persistensi dengan kinerja (organizational citizenship behavior) jika integritas dalam keadaan konstan, diperoleh nilai sebesar 0,251. Sedangkan integritas kinerja (organizational citizenship behavior) jika persistensi dalam keadaan konstan, diperoleh nilai sebesar 0,238. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat diketahui bahwa variabel bebas yang mempunyai hubungan yang paling kuat dan kontribusi yang paling besar terhadap variabel terikat adalah persistensi. Bibliografi : lembar 112-114
Tidak tersedia versi lain