Text
Karesidenan Banyumas sebagai daerah endemi malaria pada masa kolonial (1908-1928)
Penelitian ini mengkaji tentang Karesidenan Banyumas Sebagai Daerah Endemi Malaria Pada Masa Kolonial (1908-1928). Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi fakta-fakta mengenai peristiwa epidemi malaria di Karesidenan Banyumas tahun 1908-1928, hingga menjadi daerah endemi malaria. Mulai dari faktor-faktor yang menyebabkan perkembangan penyakit tersebut, sampai upaya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah dengan pendekatan deskriptifnaratif. Sumber data diperoleh dari dokumen-dokumen yang didapatkan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Perpustakan KITLV Jakarta, Perpustakaan Departemen Kesehatan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa epidemi malaria yang terjadi secara terus-menerus dalam kurun waktu 1908-1928, membuat Karesidenan Banyumas dianggap sebagai daerah endemi malaria. Kajian ini akan menjelaskan mengapa Karesidenan Banyumas bisa dianggap sebagai daerah endemi malaria, dilihat dari kondisi lingkungan di wilayah tersebut. Baik lingkungan fisik, lingkungan biologis maupun lingkungan sosialnya. Lingkungan Fisik Karesidenan Banyumas menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan tempat yang relevan untuk perkembangbiakan nyamuk anopheles. Sedangkan berdasarkan lingkungan biologisnya, di wilayah karesidenan Banyumas banyak ditemukan nyamuk anoplheles jenis aconitus dan anopheles ludlowi. Lingkungan sosial juga mempengaruhi perkembangan penyakit malaria di wilayah Karesidenan Banyumas. Perilaku penduduk yang sering melakukan aktifitas di malam hari, sangat berpotensi tergigit nyamuk anopheles yang dapat menularkan penyakit malaria. Penelitian ini juga membahas berbagai upaya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial dalam rangka menanggulangi epidemi malaria yang terjadi di Karesidenan Banyumas. Baik upaya kuratif (pengobatan), yaitu dengan kinanisasi dan upaya preventif (pencegahan) seperti: teknik Asseineering dan penyuluhanpenyuluhan yang dilakukan oleh para mantri malaria maupun guru-guru di sekolah. Kata kunci: Epidemi, Endemi, Malaria, Karesidenan Banyumas, Kolonial
This research discusses about the Residency of Banyumas as an Endemic Area of Malaria in Colonial Period (1908-1928). This study aims to reconstruct the facts about the epidemic of malaria in Banyumas Residency during 1908-1928, to become an endemic area of malaria. Ranging from factors that affect the transmission of the disease, until the handling efforts undertaken by the Dutch colonial government. The method used in this research, is historical method with descriptive-narrative approach. Source of data obtained from documents in the National Archives of Indonesia (ANRI), Library of University of Indonesia (UI), Library of KITLV Jakarta, Library of Ministry of Health, National Library of Indonesia Republic (PNRI). The results of this study explained that the epidemic of malaria that occurred continuously in the period 1908-1928, making Banyumas Residency is considered as endemic areas of malaria. That matter will explain why Banyumas Residency can be considered as a malaria endemic area, judging by the environmental conditions in the region. Including the physical environment, the biological environment and its social environment. Physical Environment at Banyumas Residency shows that the area is a relevant place for breeding anopheles mosquitoes. While based on biological environment, in the residency area of Banyumas many mosquitoes found anoplheles type aconitus and anopheles ludlowi. The social environment alsoaffectsthedevelopment of malaria disease in Banyumas Residency area. Behavior of residents who often do activities at night, is potentially bitten by anopheles mosquito that can transmit malaria disease. This study also discusses various efforts handled by the colonial government in order to overcome the malaria epidemic that occurred in Banyumas Residency. Both curative efforts (treatment), namely by kinanisasi (quinine science) and preventive efforts (prevention) such as: Asseineering techniques and counseling-extension conducted by the malaria mantri and teachers in schools.Keywords: Epidemic, Endemic, Malaria, Banyumas Residency, Colonial
| SS00015980 | SK 15980 | UPT Perpustakaan UNJ (CD.04.2018.005) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain