Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta

Katalog (Tugas Akhir/Skripsi/Tesis/Disertasi)

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
No image available for this title
Penanda Bagikan

Text

Bengkel teater 1961-1998 : dari Yogyakarta ke Depok

Anisa Suci Rahmayuliani - Nama Orang;

Penelitian ini mengkaji tentang sejarah Bengkel Teater sebagai salah satu kelompok teater di masa Orde Baru yang mendapatkan pelarangan berkreasi. Tujuan awal didirikannya Bengkel Teater hanya sekedar untuk membenahi tubuh aktor teater Indonesia demi kepentingan kreativitas teater. Tapi nyatanya terhitung sejak tahun 1978 Bengkel Teater mengalami pelarangan pementasan dari pemerintah. Batasan awal penelitian ini adalah tahun 1967 karena pada tahun tersebut Bengkel Teater resmi dibentuk di Yogyakarta. Sedangkan tahun 1998 dipilih sebagai akhir batasan karena pada tahun tersebut rezim Orde Baru resmi ditumbangkan. Selain itu, dalam penelitian ini akan dibahas juga mengenai sebab-sebab pelarangan yang dialami Bengkel Teater. Dan pelarangan pementasan hanya terjadi ketika pemerintahan Orde Baru berkuasa. Selepas dari Pemerintahan Orde Baru, Bengkel Teater memiliki kebebasan penuh untuk menampilkan pementasannya. Penelitian ini disajikan secara deskriptif naratif menggunakan metode penelitian sejarah, yakni terdiri dari pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, dan penulisan. Dalam tahap pengumpulan sumber penulis mengumpulkan sumber penulisan baik sumber sumber data dibagi menjadi sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yang digunakan adalah tulisan mengenai Bengkel Teater yang ditulis oleh Rendra maupun oleh anggota Bengkel Teater lain dalam bentuk buku, koran maupun artikel yang penulis temukan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Pusat Dokumen Sastra H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki, dokumen pribadi milik Ken Zuraida dan dokumen pribadi milik Edi Haryono. Serta dengan mewawancarai anggota Bengkel Teater yang masih hidup seperti Edi Haryono dan Dahlan Rebo Pahing.Untuk sumber sekunder, penulis menggunakan berbagai literatur sejarah yang berhubungan dengan penelitian ini seperti biografi, artikel, buku-buku, dan koran-koran sezaman tentang Orde Baru dan Bengkel Teater serta buku-buku tentang kesenian dan kebudayaan yang didapat dari berbagai tempat. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kepindahan Bengkel teater dari Yogyakarta ke Depok bukanlah semata-mata karena keinginan Rendra. Namun ada desakan keadaan yang membuat Rendra harus keluar dari Yogyakarta dan banyak melakukan aktivitas di Jakarta dengan juga membawa Bengkel Teater. Yaitu segala pelarangan pementasan yang ditujukan untuk Rendra dan Bengkel Teater. Kepindahan Bengkel teater terjadi secara perlahan-lahan terhitung sejak tahun 1977 hingga pada 1987 Bengkel Teater sudah sepenuhnya meninggalkan Yogyakarta dan menempati wilayah baru yaitu di Jala Raya Cipayung, Depok dengan nama Bengkel Teater Rendra (BTR). Ditemukan pula pengaruh kepindahan yang dirasakan begitu berbeda oleh anggota Bengkel Teater ketika masih di Yogyakarta dengan di Depok. Rendra berubah menjadi seperti diktator yang melatih anggota Bengkel Teater dengan cara seenaknya saja tanpa kompromi. Kepemimpinan Rendra menjadi begitu sentralistik berbarengan dengan penambahan nama “Rendra” dibelakang nama Bengkel Teater setelah pindah ke Depok. Begitu pula dalam hal keanggotaan, di BTR setiap harinya anggota yang ingin berlatih diminta membayar biaya latihan, berbeda dengan anggota Bengkel Teater ketika masih di Yogya. Hal ini dilakukan untuk bisa tetap menghidupi anggota BTR. Perubahan juga dirasakan dari pementasan BTR. Orientasi pementasan BTR pun berubah menjadi lebih sadar internasional dilihat dari BTR yang pernah melakukan pementasan ke New York, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia. Berbeda dengan ketika Bengkel Teater masih di Yogya yang hanya melakukan pementasan dengan skala lokal. Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi Bengkel Teater setelah tujuh tahun vakum dari dunia teater.

This study examines the history of the Bengkel Teater as one of the theater groups in the New Order era that get a creative ban. The purpose of the beginning of the establishment of Theater Workshop is just to fix the body of Indonesian theater actors in the interest of theatrical creativity. But in fact since 1978 the Bengkel Teater experienced a ban on staging from the government. The initial limitation of this research is 1967 because in that year the official Workshop was formed in Yogyakarta. While in 1998 was chosen as the end of the limit because in that year the New Order regime was officially overthrown. In addition, in this research will be discussed also about the causes of the ban experienced by the Bengkel Teater. And the staging ban only occurred when the New Order government came to power. After the New Order Government, Bengkel Teater full freedom to display its performances. This research is presented in descriptive narrative using historical research method, which consists of topic selection, source collection, verification, interpretation, and writing. In the collecting phase of the source the authors collect the source of writing both the source data source is divided into primary sources and secondary sources. Primary source used is writing about Bengkel Teater written by Rendra or by other member of Bengkel Teater in book form, newspaper and article which writer find in National Library of Indonesia, Center of Document of Literature H.B. Jassin Taman Ismail Marzuki, personal documents owned by Ken Zuraida and personal documents owned by Edi Haryono. As well as interviewing surviving members of the Bengkel Teater such as Edi Haryono and Dahlan Rebo Pahing. For secondary sources, the author uses various historical literature related to this research such as biographies, articles, books, and contemporary papers about the New Order and Bengkel Teater and books about art and culture gained from various places. The result of this research is that removal of workshop from Yogyakarta to Depok is not solely because of Rendra's wishes. But there are pressures that make Rendra must get out of Yogyakarta and many activities in Jakarta with also brought the Bengkel Teater. That is all banning staging intended for Rendra and Bengkel Teater. Removals The workshop took place slowly from 1977 to 1987. The workshop has completely left Yogyakarta and occupies a new territory in Jala Raya Cipayung, Depok with the name of Bengkel Teater Rendra (BTR). Also found the effect of removal is felt so different by members of the Bengkel Teater while still in Yogyakarta with in Depok. Rendra transformed into a dictator iv who trained members of Bengkel Teater in an uncompromising way. Leadership Rendra became so centralized in unison with the addition of the name "Rendra" behind the name of Bengkel Teater moving to Depok. Similarly, in terms of membership, in the BTR every day members who want to practice are asked to pay the cost of training, unlike members of the Bengkel Teater while still in Yogya. This is done to keep the BTR members alive. Changes are also felt from BTR performances. The orientation of BTR performances was changed to become more international conscious from the BTR who once performed to New York, Japan, South Korea and Malaysia. Unlike when the Bengkel Teater is still in Yogya that only performing with local scale. This is done to maintain the existence of the Bengkel Teater after seven years of vacuum from the world of theater.




Ketersediaan
#
UPT Perpustakaan UNJ (CD.04.2018.002) SK 15997
SS00015997
Tersedia
Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
SK 15997
Penerbit
Jakarta : Program Studi Pend. Sejarah FIS UNJ., 2018
Deskripsi Fisik
xiv, 122 lembar : il. ; 28 cm.
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
NONE
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
Bengkel
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
Anisa Suci Rahmayuliani
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Sejarah awal perpustakaan berasal dari perpustakaan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia (FKIP UI). Pada tahun 1999 sesuai dengan Keputusan Presiden RI No.93/1999, IKIP Jakarta berubah statusnya menjadi Universitas Negeri Jakarta. Maka Perpustakaan IKIP Jakarta mengubah nama pula menjadi Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?