Text
Penataan Tari Sipatmo sebagai upaya pelestarian seni budaya Betawi oleh Dewan Kesenian Jakarta
Tari Sipatmo pada abad ke-21 sudah tidak terlihat lagi, bisa dikatakan hampir punah. Kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat harus dijaga agar tidak punah supaya identitas masyarakat tersebut tidak hilang. Dewan Kesenian Jakarta mengadakan kegiatan yang salah satu tujuannya adalah untuk melestarikan tari Sipatmo. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis cara pelestarian Tari Sipatmo oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai wujud aksi pemerintah dan pelaku seni dalam melestarikan kebudayaan. Kebudayaan pada masyarakat Betawi khsusnya Tari Sipatmo tidak boleh punah, masyarakat harus mengenali, menjaga serta terus melestarikan kebudayaan yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kualitatif dengan strategi etnografi. Proses penelitian berlangsung dari desember 2014 sampai dengan november 2017 dimulai dari mengikuti kegiatan Telisik Tari Topeng Dan Cokek yaitu seminar (diskusi), workshop (masterclass) tari Sipatmo dan menonton pertunjukan, proses pengumpulan data, analisis data hingga proses penulisan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori pelestarian dan konsep penataan tari yang berpayung dari Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata nomor 40-42 Tahun 2009 tentang pedoman pelestarian, dimana adanya proses perlindungan dengan cara tertentu. Penelitian ini membahas tentang pengelolaan tari Sipatmo oleh Dewan Kesenian Jakarta. Mengkaji tentang gambaran umum, menejemen, dan kegiatan yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Jakarta, sejarah tari Sipatmo dan bentuk penyajian tari Sipatmo dilihat dari elemen pokok dan elemen pendukung tari Sipatmo. Tari Sipatmo dilestarikan dengan Proses perlindungan kebudayaan oleh Dewan Kesenian Jakarta dengan menggunakan cara perlindungan kebudayaan khususnya tari Sipatmo yaitu dengan menggunakan cara menata informasi kebudayaan. Cara menata tari Sipatmo pada penelitian ini terfokus pada workshop yang mempunyai rangkaian acara yaitu pelatihan tari Sipatmo menggunakan orkes Gambang Kromong, penjelasan tentang tari Sipatmo dengan narasumber. Dilihat dari hasil interpretasi dapat dilihat hasil dari penelitian ini adalah mengetahui cara pelestarian tari Sipatmo oleh Dewan Kesenian Jakarta. Menjaga kebudayaan khususnya seni tari merupakan kewajiban selutuh masyarakat Indonesia, jika kebudaayaan itu punah maka identitas masyarakat dimana kebudayaan itu berkembang juga akan hilang. Maka dari itu pelestarian tari Sipatmo perlu untuk dilakukan karena hampir punah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber
belajar tentang pelestarian kebudayaan Betawi dan atau kebudayaan lain khususnya tentang pelestarian tari baik untuk kalangan akademik, pemerintahan, tokoh seniman dan budayawan, maupun masyarakat luas.
In 21st century, Sipatmo dance has been rare to see, it is almost extinct. The culture of community must be preserved in order to keep their own identity. Jakarta Art Council held special event that the main purpose is to preserve Sipatmo dance. The purpose of this research is to analyze how Jakarta Art Council prevents Sipatmo dance as a form of an action of the government and the artist in preventing a culture. The culture of betawi society should not be extinct, especially Sipatmo dance. They must recognize, keep, and preserve their own culture. This research uses descriptive qualitative with ethnography strategy. The research process took place from December 2014 until November 2017. It was started from the researcher attended to the seminar about Betawi mask dance and Betawicokek dance (discussion), attended to the workshop of sipatmo dance (masterclass) and watched the performance of sipatmo dance, the processed of collecting the data, analyzed the data, until the processed of writing. The theories which use in this research are the theory of preserving, and the concept of dance arrangement according to the decision of Ministry of Home Affairs, and Ministry of Culture and Tourism no 40-42, 2009 about preservation guidelines. This research discusses about the management of Sipatmo dance by Jakarta Art Council. It also reviews about the general description of management and Jakarta Art Council activities, the history of Sipatmo dance, and a form of Sipatmo dance presentation that is seen from the main elements and supporting element. Sipatmo dance is preserved by Jakarta Art Council by means of organizing cultural information. How to recognize Sipatmo dance in this research focused on the workshop that had a special event for Sipatmo dance. It was the Sipatmo dance training that used GambangKromong orchestra, and the explanation of sipatmo dance with the speaker. From the result of interpretation, it can be seen the result of this research is the way of preservation Sipatmo dance by Jakarta Art Council. Keeping the culture, especially dance, is the responsibility of all Indonesian society. If the culture is extinct then our own identity is also disappear. Therefore, the preservation of Sipatmo dance must be done because it is almost extinct. This research is expected to be a source of learning about the preservation of Betawi culture and or other cultures, especially about preservation of dance for academic, government, artist, and cultural figure, and also for all Indonesian society.
| SS00016808 | SK 16808 | UPT Perpustakaan UNJ (CD.02.2018.003) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain