Text
The Perceptions of Indonesian Judges in Sentencing Minor Drug Offenders: Challenges and Opportunities
This paper presents the perceptions of Indonesian Judges in sentencing minor drug offenders. The judge holds a central role in the sentencing process, and because essential to understand how judges come to their sentencing decisions. To develop an understanding of how judges perceive their actions in decision-making and sentencing of drug users, a total of 31 participants were interviewed. The data demonstrated that the majority of minor drug offenders are from poorer backgrounds. Poverty was found to lead people to the drug culture. Moreover, lack of understanding of the harm caused by taking drugs and living under drug prohibition were considered as contributing factors to people involved in minor drug offences. Thus, minor drug offenders are considered by judges as victims of their circumstances. Within structural inequality, the imposition of harsh sentencing to minor drug offenders who suffer from socio-economic problems raises issues surrounding justice. Within the current legal structure of Indonesian courts, which are primarily retributive and have drug prohibitionist policies, the majority of participating judges consider drug sentencing as reflecting those prohibitionist policies. However, a substantial minority of participating judges interpreted the form of the sentence within available limits. These findings will contribute to the sociological understanding of the context in which judicial culture shaped the formation of the judiciary as a group and the impact of Islamic culture on the participating judge's positive preference for rehabilitative problem-solving in the Indonesian context.
Keywords: Judicial Culture, The Formation of the Judiciary, Islamic Culture, Rehabilitative Problem-solving, Indonesian Context
Makalah ini menyajikan persepsi para Hakim Indonesia dalam menghukum pelak pengguna narkoba. Hakim memegang peran sentral dalam proses hukuman, dan karena kebijaksanaan yang dimiliki oleh hakim, adalah penting untuk memahami bagaimana yang hakim sampai pada putusan penjatuhan hukuman. Untuk mengembangkan pemahaman tentang bagaimana hakim mempertimbangkan dalam putusan kepada terdakwa pengguna narkoba, total 31 peserta diwawancarai. Data menunjukkan bahwa mayoritas pengguna narkoba minor berasal dari latar belakang yang kurang beruntung. Kemiskinan ditemukan mendorong orang ke jaringan narkoba. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang dampak kerusakan disebabkan oleh penggunaan narkoba dan hidup di bawah rezim pelarangan terhadap narkoba dianggap sebagai faktor yang berkontribusi bagi orang yang terlibat dalam perkara penggunaan narkoba. Dengan demikian, pengguna narkoba dipertimbangkan oleh hakim sebagai korban dari keadaan mereka. Dalam ketidaksetaraan struktural, penjatuhan hukuman yang tinggi kepada pengguna narkoba yang mengalami permasalahan sosial-ekonomi menimbulkan masalah seputar keadilan. Dalam struktur hukum pengadilan Indonesia saat ini, yang terutama bersifat retributif dan memiliki kebijakan pelarangan narkoba, mayoritas hakim yang berpartisipasi dalam penelitian menganggap hukuman narkoba sebagai cerminan kebijakan pelarangan tersebut. Namun, sebagian besar hakim yang berpartisipasi menafsirkan bentuk penjatuhan hukuman dalam batas yang diatur dalam undang-undang. Temuan- temuan ini akan berkontribusi pada pemahaman socio-legal dari konteks di mana budaya peradilan membentuk aparat peradilan sebagai sebuah kelompok dan dampak budaya Islam yang berpengaruh pada preferensi positif hakim yang mendukung putusan secara rehabilitasi dalam konteks Indonesia.
Tidak tersedia versi lain