Electronic Resource
A comparative study on the fashion design process utilizing shape memory textiles and conventional textiles: implications for the industry and education
This study compares fashion design processes involving shape memory textiles (SMTs) compared to ones involving conventional textiles (CTs). The primary objectives were to identify barriers to the adoption of SMTs in the fashion industry from designers' perspectives, assess the impact of SMTs on conventional design processes, and develop strategies to enhance the use of SMTs in fashion design. Data collection involved three phases: design tasks using CTs, design tasks using SMTs, and in-depth interviews with 22 fashion design professionals. Findings revealed that designers typically followed a sequential process for both conventional and SMTs, starting with gathering references, sketching, and creating technical drawings. However, while concurrent reference gathering and sketching were common in CTs, for SMTs, additional research stages were required due to uncertainties in materials and challenges in keyword searches. Designers often shifted focus from trend-centric design to exploring functional possibilities with SMTs, potentially leading to fewer trendy designs. Major challenges included defining and classifying smart textiles including SMTs, visualizing shape-changing properties, and a lack of practical experience with these innovative materials. The insights form a guideline for collaborative efforts among manufacturing, design, and educational sectors to ensure that SMTs are integrated into the fashion industry.
Studi ini membandingkan proses desain fesyen yang melibatkan tekstil memori bentuk (SMT) dengan yang melibatkan tekstil konvensional (CT). Tujuan utamanya adalah mengidentifikasi hambatan adopsi SMT dalam industri fesyen dari perspektif desainer, menilai dampak SMT terhadap proses desain konvensional, dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan penggunaan SMT dalam desain fesyen. Pengumpulan data melibatkan tiga fase: tugas desain menggunakan CT, tugas desain menggunakan SMT, dan wawancara mendalam dengan 22 profesional desain fesyen. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa desainer biasanya mengikuti proses berurutan untuk desain konvensional dan SMT, dimulai dengan pengumpulan referensi, pembuatan sketsa, dan pembuatan gambar teknis. Namun, meskipun pengumpulan referensi dan pembuatan sketsa secara bersamaan umum dilakukan dalam CT, untuk SMT, diperlukan tahapan penelitian tambahan karena ketidakpastian material dan tantangan dalam pencarian kata kunci. Desainer sering kali mengalihkan fokus dari desain yang berpusat pada tren ke eksplorasi kemungkinan fungsional dengan SMT, yang berpotensi menghasilkan lebih sedikit desain yang trendi. Tantangan utama meliputi pendefinisian dan klasifikasi tekstil pintar termasuk SMT, visualisasi sifat pengubah bentuk, dan kurangnya pengalaman praktis dengan material inovatif ini. Wawasan ini menjadi pedoman bagi upaya kolaboratif antar sektor manufaktur, desain, dan pendidikan untuk memastikan SMT terintegrasi ke dalam industri fesyen.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain