Electronic Resource
The highlighting divide: does highlighting strategy help explain international gaps in reading achievement?
Highlighting or marking potentially relevant information in colors while reading (Dunlosky et al., 2013) is among students’ most common studying strategies (ChanLin, 2013; Miyatsu et al., 2018). Many studies have examined the conditions affecting highlighting’s contribution to reading performance (see Ponce et al., 2022, for a recent meta-analysis). However, no studies have tackled cross-cultural differences in highlighting behavior or its relationship with achievement. As the efficacy of highlighting as a reading aid can vary dramatically with training (e.g., Leutner et al., 2007), students in different educational systems might be more or less efficient when highlighting. Different languages also affect reading acquisition and comprehension (Caravolas et al., 2019; Verhoeven & Perfetti, 2011), so exploring commonalities and differences in highlighting behaviors across languages might shed light on the cognitive processes behind reading.
This study used data from the digital version of the 2021 Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) assessment to describe the highlighting behaviors of students in five countries and three languages. We also examined whether the relationship between highlighting and performance on the assessment varies across these countries. By doing so, we hope to expand the theoretical understanding of highlighting as a reading facilitator. Learning whether educational systems can help students use highlighting more effectively could inform reading instruction and improve reading achievement in the future.
Menyorot atau menandai informasi yang berpotensi relevan dengan warna saat membaca (Dunlosky dkk., 2013) merupakan salah satu strategi belajar yang paling umum dilakukan siswa (ChanLin, 2013; Miyatsu dkk., 2018). Banyak penelitian telah mengkaji kondisi yang memengaruhi kontribusi penyorotan terhadap performa membaca (lihat Ponce dkk., 2022, untuk meta-analisis terbaru). Namun, belum ada penelitian yang membahas perbedaan lintas budaya dalam perilaku menyorot atau hubungannya dengan prestasi. Karena efektivitas penyorotan sebagai alat bantu membaca dapat sangat bervariasi seiring dengan pelatihan (misalnya, Leutner dkk., 2007), siswa dalam sistem pendidikan yang berbeda mungkin lebih atau kurang efisien dalam menyorot. Bahasa yang berbeda juga memengaruhi perolehan dan pemahaman membaca (Caravolas dkk., 2019; Verhoeven & Perfetti, 2011), sehingga mengeksplorasi persamaan dan perbedaan dalam perilaku menyorot antarbahasa dapat menjelaskan proses kognitif di balik membaca.
Studi ini menggunakan data dari versi digital asesmen Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) 2021 untuk mendeskripsikan perilaku pemberian tanda baca pada siswa di lima negara dan tiga bahasa. Kami juga meneliti apakah hubungan antara pemberian tanda baca dan kinerja asesmen bervariasi di antara negara-negara tersebut. Dengan demikian, kami berharap dapat memperluas pemahaman teoretis tentang pemberian tanda baca sebagai fasilitator membaca. Mempelajari apakah sistem pendidikan dapat membantu siswa menggunakan tanda baca secara lebih efektif dapat memberikan informasi yang berguna dalam pengajaran membaca dan meningkatkan prestasi membaca di masa mendatang.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain