Electronic Resource
Adaptive reuse strategies for interior design: promoting living heritage in Bagamoyo, Tanzania
Various pieces of literature affirm that historic buildings of different grades need specific interior design strategies to maintain their historical authenticity and convey their living heritage. This study investigates three historic buildings with different historical significance: Old Boma (Grade A), Old Post Office (Grade B), and Poa Poa Restaurant (Grade C). Archival research, field observations, interviews, surveys, and comparative analysis were used as the methodology. The following were the findings: there was a mismatch between the historical building category and the applied interior design strategies, which led to some buildings losing their historical authenticity; however, the newly evolved interior spaces have enhanced a higher quality of living heritage in terms of providing communal spaces, cultural exhibition activities, community engagement, and interactions through educational and economic activities. Predicaments include lack of funding for sustaining living heritage, failure to balance historical authenticity with modernity, lack of comprehensive planning for interior adaptive reuse projects, lack of conservation skills among the stakeholders, and a limited legislative framework for conserving buildings. The study recommends the following: fostering collaboration among various stakeholders (building owners, government, municipalities, local communities, and investors) to minimize conflicts and promote holistic adaptive reuse of historic buildings.
Berbagai literatur menegaskan bahwa bangunan bersejarah dengan berbagai tingkatan memerlukan strategi desain interior khusus untuk mempertahankan keaslian historisnya dan menyampaikan warisan hidup mereka. Studi ini menyelidiki tiga bangunan bersejarah dengan signifikansi historis yang berbeda: Old Boma (Tingkat A), Old Post Office (Tingkat B), dan Poa Poa Restaurant (Tingkat C). Metodologi yang digunakan adalah penelitian arsip, observasi lapangan, wawancara, survei, dan analisis komparatif. Temuan-temuan berikut: terdapat ketidaksesuaian antara kategori bangunan bersejarah dan strategi desain interior yang diterapkan, yang menyebabkan beberapa bangunan kehilangan keaslian historisnya; namun, ruang interior yang baru dikembangkan telah meningkatkan kualitas warisan hidup dalam hal penyediaan ruang komunal, kegiatan pameran budaya, keterlibatan masyarakat, dan interaksi melalui kegiatan pendidikan dan ekonomi. Kendala yang dihadapi meliputi kurangnya dana untuk melestarikan warisan hidup, kegagalan menyeimbangkan keaslian historis dengan modernitas, kurangnya perencanaan komprehensif untuk proyek pemanfaatan kembali interior, kurangnya keterampilan konservasi di antara para pemangku kepentingan, dan terbatasnya kerangka legislatif untuk melestarikan bangunan. Studi ini merekomendasikan hal-hal berikut: mendorong kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan (pemilik bangunan, pemerintah, pemerintah kota, masyarakat setempat, dan investor) untuk meminimalkan konflik dan mendorong penggunaan kembali bangunan bersejarah secara holistik.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain