Text
Bagaimana seharusnya memperlakukan agama-agama di era sains modern?
Artikel ini menyoroti tantangan dan peluang dalam memperlakukan agama-agama di era sains modern. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali dipersepsikan bertentangan dengan keyakinan religius, namun sesungguhnya keduanya dapat saling melengkapi. Agama menyediakan kerangka nilai, etika, dan makna, sementara sains menawarkan metode empiris untuk memahami realitas. Penulis menekankan pentingnya pendekatan dialogis yang menghindari reduksionisme, baik saintifik maupun teologis, serta mengedepankan sikap kritis, terbuka, dan inklusif. Dengan demikian, agama-agama dapat berperan sebagai mitra moral dalam mengarahkan penggunaan sains demi kemanusiaan, sekaligus memperkaya horizon spiritual masyarakat modern. Artikel ini mengusulkan paradigma integratif yang menempatkan agama dan sains dalam hubungan kooperatif, bukan kompetitif, sehingga keduanya dapat berkontribusi pada pembangunan peradaban yang berkelanjutan.
This article explores the challenges and opportunities of treating religions in the modern scientific era. While science and technology are often perceived as conflicting with religious beliefs, they can in fact complement each other. Religion provides frameworks of values, ethics, and meaning, whereas science offers empirical methods to understand reality. The author emphasizes the importance of a dialogical approach that avoids both scientific and theological reductionism, fostering critical, open, and inclusive attitudes. In this way, religions can serve as moral partners in guiding the use of science for humanity, while enriching the spiritual horizon of modern society. The article proposes an integrative paradigm that situates religion and science in cooperative rather than competitive relations, enabling both to contribute to sustainable civilizational development.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain