Text
Mencari titik-temu agama dan sains: sebuah perpspektif Islam
Artikel ini membahas upaya menemukan titik-temu antara agama dan sains dari perspektif Islam. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dan spiritualitas pernah berjalan beriringan, melahirkan kemajuan dalam filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi. Namun, modernisasi seringkali menimbulkan dikotomi antara sains sebagai pengetahuan empiris dan agama sebagai sumber nilai transenden. Penulis menekankan bahwa Islam memiliki prinsip integratif yang menempatkan ilmu sebagai bagian dari ibadah dan pencarian kebenaran. Dengan mengedepankan konsep tauhid sebagai landasan epistemologi, sains dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan sarana untuk memahami ciptaan Allah. Artikel ini mengusulkan paradigma dialogis yang menekankan keterbukaan, etika, dan tanggung jawab moral, sehingga agama dan sains dapat saling melengkapi dalam membangun peradaban yang berkeadilan dan berkelanjutan.
This article explores efforts to find common ground between religion and science from an Islamic perspective. The history of Islamic civilization demonstrates that scientific traditions and spirituality once coexisted, fostering advancements in philosophy, medicine, mathematics, and astronomy. However, modernization has often created a dichotomy between science as empirical knowledge and religion as a source of transcendent values. The author emphasizes that Islam offers an integrative principle that regards knowledge as part of worship and the pursuit of truth. By grounding epistemology in the concept of tauhid, science is seen not as a threat but as a means to understand God’s creation. The article proposes a dialogical paradigm that highlights openness, ethics, and moral responsibility, enabling religion and science to complement each other in building a just and sustainable civilization.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain