Text
Mempertahankan ruang kewargaan: perempuan aktivis dan politik spasial di masa pandemi covid-19
Pandemi telah mengubah praktik spasial masyarakat secara substansial. Pembatasan sosial berskala besar, lockdown, dan kewajiban memakai masker telah mengubah cara manusia membangun relasi intim maupun relasi kewargaan dan demokrasi. Artikel ini membahas tentang bagaimana pandemi mengubah ruang kewargaan (civic space) perempuan aktivis dan bagaimana mereka mempertahankan dan menciptakan ruang kewargaan ditengah pandemi dan regresi demokrasi. Sumber data artikel adalah survei elektronik 20 perempuan aktivis dan wawancara mendalam melalui medium daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi masyarakat sipil (civil society organization) di Indonesia mengalami tekanan yang semakin berat. Bagi organisasi masyarakat sipil, ruang gerak mereka dibatasi oleh berbagai peraturan hukum dan pelbagai kekerasan dan stigma yang ditujukan kepada aktivis civil society. Lebih dari itu, bagi perempuan aktivis, pandemi juga memberikan beban tambahan domestik yang membuat ruang gerak perempuan aktivis semakin terbatas. Di tengah hambatan-hambatan tersebut, penelitian kami menunjukkan bahwa perempuan aktivis dan civil society tidak mengurangi intensitas mereka dalam mempertahankan ruang kewargaan.
The Covid19 pandemic has changed society’s spatial practices substantially. Large-scale social restrictions, lockdowns, and the obligation to wear masks have changed the way humans relates to each other personally and politically. This article discusses how the pandemic has shaped civic space of women activists and how women activists maintain and create citizenship space amid the pandemic and democratic regression. The data source of the article is collected through online survey of 20 female activists and in-depth online interviews. The results show that civil society organizations in Indonesia are under immense pressure due to pandemic and democratic regression. For civil society organizations, their space is limited by various legal regulations and various violence and stigma aimed at civil society activists. More than that, for women activists the pandemic also provides additional domestic burdens which make the space for women activists increasingly limited. In the midst of these obstacles, our research shows that women and civil society activists do not reduce their intensity in maintaining the civic space.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain