Text
'Mencairnya' Kuasa: Sastra, Subjektivitas Cair, dan Resistensi terhadap Kuasa Budaya dan Negara dalam Perspektif Poskolonial
Artikel ini, dengan orientasi konseptual-teoretis dan metodologis, akan membahas cairnya kuasa budaya dan negara dalam struktur naratif sastra, dengan menggunakan pendekatan poskolonial. Narasi sastra bisa diposisikan sebagai produk representasi yang menghadirkan subjektivitas cair, berupa tokoh naratif dan wacana partikular, terkait permasalahan sosial-budaya, khususnya hibriditas kultural. Kehadiran modernitas dan berlangsungnya praktik budaya tradisional dalam masyarakat pascakolonial menyebabkan timbul permasalahan tersebut. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa subjektivitas cair, di satu sisi, bisa memunculkan wacana emansipasi untuk memberdayakan masyarakat lokal dan, di sisi lain, bisa memunculkan resistensi terhadap kuasa berbasis budaya tersebut. Oposisi biner antara Barat dan Timur menjadi sangat cair, karena subjek poskolonial bisa menggunakan pemikiran modern untuk mendekonstruksi keutuhan modernitas maupun keutuhan budaya tradisional. Namun, ketika negara menerapkan neoliberalisme, subjektivitas cair dan hibriditas kultural perlu ditafsir-ulang. Kuasa budaya tradisi dan negara akan mendapatkan pemaknaan-baru dan resistensi; karena prinsip kebebasan individual dalam hukum pasar menuntut kehadiran minimum kedua entitas tersebut. Kondisi itu memunculkan peluang untuk mengkritisi dan memodifikasi kajian poskolonial.
This article, with theoretical-conceptual and methodological orientation, will discuss fluidity of cultural and state power. By using postcolonial approach, literary narrative can be positioned as a representation product that presents a fluid subjectivity as narrative character and particular discourse, related to socio-cultural problem, especially cultural hybridity. The presence of modernity and the maintaining of traditional cultures in postcolonial society cause such problem. This study shows that the fluid subjectivity, in one side, emerges emancipation discourse for empowering local society and, in other side, can emerge resistance against such cultural-based-power. The binary opposition between the West and the East is becoming fluid, because postcolonial subject can use modern thoughts-although not completely-to deconstructing the wholeness of both modernity and traditional cultures. However, when the state applies neo-liberalism, the concept of fluid subjectivity and cultural hybridity need to be re-interpreted. The power of culture and state will get new meaning and resistance because individual freedom principle in market law demands the minimum presence of the two entities. Such condition emerge a chance to criticize and modify postcolonial studies.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain