Text
Konteks Sosial, Politik, dan Budaya dalam Sastra Drama Tahun 1970-an: Studi Kasus pada "Kisah Perjuangan Suku Naga" Karya W.S. Rendra dan "Maaf, Maaf, Maaf" Karya N. Riantiarno
Pesona kekuasaan, baik di ranah keluarga (domestik) maupun di ranah umum (publik) senantiasa memicu pergolakan di antara anggota keluarga dan masyarakat luas. Dalam pada itu, para birokrat yang mengemban tugas pemerintahan dapat dikatakan sebagai ujung tombak untuk menyejahterakan masyarakat melalui program-programnya. Namun demikian, dinamika di lapangan, selain hal positif juga menimbulkan efek negatif, yang berkaitan dengan perilaku birokrat dalam hal implementasi program-program itu. Hal itu terekam dalam ingatan kolektif masyarakat dan menjadi batu besar yang menghalangi pandangan. W.S. Rendra dan N. Riantiarno melalui karyanya merekam ingatan kolektif itu menjadi sebuah drama yang menyindir dan kritis. Di balik karyanya itu, mereka memberi ingatan kepada kita betapa ekses dari proses pembangunan sepanjang tahun 1970-an menuai opini yang perlu dicermati di masa sekarang ini.
The charm of power, whether in the family domain (domestic) or in general domain (public), always triggers turbulence among family members and wider community. In terms of that, the bureaucrats that carry the government tasks can be cosidered as the spearhead in order to make the soceity prosperous through the government's programs. The dynamics on the field, however, in addition to the positive things also cause negative effects, which are related to the bureaucrats' behaviours in the implementation of the programs. It is recorded in the society's collective memories and in turn becomes the large rock that blocks the view W.S. Rendra and N. Riantiarno through their works recorded the collective memories into a satirical and hurtful plays. Behind their works, they reminded us how the excess of the development process throughout 1970s had generated opinions that needed to be closely
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain