Text
Penggunaan Pronomina Sapaan dalam Kehidupan Masyarakat Sunda Awal Abad Ke-19: Kajian Pragmatik
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan pronomina sapaan dalam masyarakat
Sunda pada awal abad ke-19. Hal ini menarik untuk dikaji sehubungan dengan pada masa itu dikenal stratifikasi sosial pada masyarakat Sunda yang terbagi ke dalam tiga tingkatan: menak, santana, dan cacah. Perbedaan stratifikasi sosial tersebut berpengaruh pada pemilihan pronomina sapaan oleh penutur terhadap lawan tutur. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif-deskriptif. Metode kajian yang digunakan adalah kajian padan pragmatik. Hasil analisis menunjukkan bahwa bentuk pronomina persona kedua sebagai sapaan meliputi bentuk tunggal dan jamak. Dari segi kajian pragmatik, fungsi pronomina sapaan itu, antara lain, untuk menunjukkan kesantunan, solidaritas, hubungan kekerabatan, humoristik, dan merujuk pada posisi penutur dan lawan tutur.
THE purpose of this paper is to recognize address of pronouns utility in Sundanese people at early 19th century. It is interesting to study because in the time was known the social stratification of Sundanese people which devided into three classes : noble, middle, and low class. The difference in that social stratification influence the selection address of pronouns by speaker to interlocutor. The method used was descriptive-qualitative method that based on pragmaties equivalent analysis. The result show that the form of second person pronouns as address involve of singular and plural form. In terms of the pragmatics study, the address of pronouns has several functions such as to show politeness, solidarity, kinship relationship, and humoristic. It is also refers to the speaker and interlocutor position.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain