Text
Ancaman terhadap hak anak: refleksi dari situasi bencana di Indonesia
Di masa tanggap darurat bencana di Indonesia, kekerasan berbasis gender dan seksual masih kerap terjadi, termasuk dalam bentuk perkawinan anak; kegiatan belajar mengajar vakum cukup lama dan merugikan anak-anak akibat ketertinggalan pelajaran dan juga mengurangi kesempatan anak untuk berkumpul dan bermain dengan teman sebaya; serta kesehatan seksual dan reproduksi masih belum mendapat perhatian yang memadai. Pelibatan anak dan remaja, laki-laki dan perempuan, bukan hanya merupakan pemenuhan hak anak tetapi sesuatu yang sentral sifatnya bagi keberhasilan upaya tanggap bencana. Tulisan ini mencoba menggali dampak bencana terhadap pemenuhan hak anak, terutama hak atas perlindungan dan bebas dari kekerasan, pendidikan, kesehatan, bermain, berpartisipasi, dan didengar, dengan menggunakan Konvensi Hak Anak sebagai kerangka pembahasan. Lensa gender, ketidaksetaraan atau inequality dan kerentanan digunakan sebagai pisau analisa. Metode yang dipakai adalah studi literatur, sedangkan data dan pembelajaran dari dua bencana besar di Indonesia yang terjadi di tahun 2018 yakni gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat dan gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah menjadi bahan utama untuk analisa.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain