Artikel ini membahas upaya menemukan titik-temu antara agama dan sains dari perspektif Islam. Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dan spiritualitas pernah berjalan beriringan, melahirkan kemajuan dalam filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi. Namun, modernisasi seringkali menimbulkan dikotomi antara sains sebagai pengetahuan empiris dan agama sebagai sumber nilai …
Artikel ini menyoroti tantangan dan peluang dalam memperlakukan agama-agama di era sains modern. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali dipersepsikan bertentangan dengan keyakinan religius, namun sesungguhnya keduanya dapat saling melengkapi. Agama menyediakan kerangka nilai, etika, dan makna, sementara sains menawarkan metode empiris untuk memahami realitas. Penulis menekankan …
Artikel ini membahas keterkaitan erat antara agama, konflik, dan kekerasan dengan merujuk pada teori René Girard tentang violence and the sacred. Trisno S. Sutanto menyoroti paradoks agama yang di satu sisi merekam aspirasi luhur dan pengorbanan, namun di sisi lain juga menjadi legitimasi bagi penindasan dan kekerasan. Penulis mengkritik sikap apologis yang menafikan keterlibatan agama dalam p…
Tulisan ini menguraikan perjalanan pembangunan bangsa Indonesia dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga era reformasi dengan menekankan pentingnya dimensi ruhani dalam kekuasaan. Nurcholish Madjid menegaskan bahwa kekuasaan bersifat nisbi dan harus dipandang sebagai amanat, bukan sarana pengagungan pribadi. Analisisnya mencakup peran tokoh awal seperti Tjokroaminoto dan Sukarno dalam meletakkan…
Artikel “Berkenalan dengan Agama-agama” karya Mahatma Gandhi dalam Titik Temu Vol. 7 No. 1 (2014) mengisahkan pengalaman pribadi Gandhi saat masa studinya di Inggris, ketika ia berinteraksi dengan para penganut Teosofi dan mulai mengenal kitab-kitab suci dari berbagai tradisi agama. Gandhi membaca Bhagawad Gita dalam bahasa Sanskerta bersama dua sahabat Teosofis, kemudian mendalami terjemah…
Penelitian ini menyoroti bagaimana organisasi-organisasi seperti Fatayat NU, Rahima, Fahmina Institute, dan Divisi Perempuan LKiS memperjuangkan kesetaraan gender, hak-hak perempuan, pluralisme, serta demokrasi melalui pendekatan berbasis tradisi pesantren dan nilai-nilai Islam progresif. Artikel ini juga menguraikan tantangan dari kelompok Muslim puritan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) …
Artikel ini membahas secara mendalam konsep amar makruf nahi mungkar dalam tradisi Islam dengan menekankan keterkaitannya dengan perintah dakwah khair. Nurcholish Madjid menyoroti bahwa perintah Qur’ani tidak hanya mencakup anjuran kebaikan dan pencegahan keburukan, tetapi diawali dengan seruan kepada al-khayr (kebaikan universal). Melalui kajian linguistik dan tafsir klasik, terutama pemikir…
Tulisan ini adalah tentang upaya merumuskan teologi hidup damai Muslim-Kristen, tentang pasca-modernisme dan masyarakat konsumer, tentang makna din dalam al-Qur’an, dan tantang kesadaran sebagai sumber kebahagiaan.
Nurcholish Madjid mengatakan bahwa dalam kenyataannya setiap kelompok sosial dengan pandangan hidupnya masing-masing mempunyai kaum inteligensianya. Mereka ini berfungsi sebagai “pemberi penjelasan” tentang pandangan hidup yang menjadi anutan masyarakat. Karena itu di mana-mana kaum inteligensia mempunyai kewajiban sebagai sumber informasi bagi masyarakat tentang pandangan hidup tersebut, b…
Forest and land fire that repeatedly destroyed million hectares of peatland in Indonesia is a result of unsustainable peatland governance for many years. Rural women and men living in peatland have different experiences with forest and land fire. Intersectionality between gender and class, geographical location, and ethnicity further add nuances to these different experiences. This ar…